Jumat, 25 Juni 2010

STRATEGI PERUSAHAAN DAN FRESH GRADUATE

Suatu kata seorang rekan Berkata :
"Biasanya perusahaan itu kan butuh orang yang biasanya udah "siap pakai".
Pertanyaan saya adalah bagaiamana yah atau apa yang bisa kita lakukan
supaya para user ini mau ngasih sedikit waktu untuk ngajarin teman2 yang
baru lulus? Walau kita tau pekerjaan selalu banyak setiap harinya :(
Tempat saya bekerja jarang banget nerima yang fresh graduate karena yah
itu...susah ngajarinnya? " :)

Tentang yang disampaikan ini, berkait dengan spesifikasi calon pegawai yang dibutuhkan perusahaan.

Semua aktivitas perusahaan tentunya bermula dari Visi-Misi. Hal ini mendorong munculnya strategi perusahaan untuk mewujudkan Visi-Misi itu. Strategi perusahaan, mendorong masing-masing bagian / unit kerja untuk memiliki strateginya masing-masing.
Di departemen yang mengurusi SDM, tentunya punya strategi untuk mendukung strategi perusahaan, dan bidang yang dimainkan antara lain rekrutmen dan pengembangan karyawan

Semua perusahaan (jangankan perusahaan ... kita ketika sedang mencari pembantu rumah tangga ataupun sopir pribadi misalnya) tentunya menginginkan tenaga kerja yang "BISA KERJA". Nah. definisi bisa kerja itu di- break down dalam beberapa aspek:
1. BISA KERJA apa / ngapain --- selanjutnya menghasilkan job specification, dan selanjutnya menghasilkan kriteria usia, jenis kelamin, pendidikan, dll
2. BISA KERJA dengan bagaimana ? --- selanjutnya menghasilkan kebutuhan "Psikotes" untuk memprediksi kira-kira si calon ini punya potensi kerja dengan semangat & etos yang OK atau nggak



Nah. dari kedua hal diatas, dikaitkan dengan strategi bisnis dan pengembangan perusahaan, tentunya membutuhkan kejelian dalam menyusun strategi rekrutmen.

Biasanya untuk perusahaan menengah dengan orientasi bisnis yang tidak terlalu panjang, akan membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai. Hal ini akan menghasilkan kebutuhan calon tenaga kerja : berpengalaman dan menguasai skill yang dibutuhkan untuk bidang kerjanya.

Sementara di perusahaan2 yang yang skala besar dan orientasi bisnisnya jangka panjang, akan menghasilkan kebutuhan tenaga kerja yang : Gak punya pengalaman gpp, yang penting Potensial untuk dikembangkan. --- Biasanya untuk memenuhi kebutuhan ini, perusahaan akan membuat program pendidikan khusus bagi tenaga-tenaga baru yang potensial dalam bentuk program Management Trainee (MT). Tujuannya, memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang handal di masa mendatang.
Di wadah yang semacam inilah para fresh graduate punya kesempatan yang sangat bagus untuk membekali dirinya demi kontribusi dimasa mendatang.

Berdasarkan ulasan diatas, barangkali perusahaan tempat teman saya (diatas) kerja yang "jarang banget nerima yang fresh graduate karena yah itu...susah ngajarinnya" --- mungkin strategi perusahaan / orientasi bisnis perusahaan memang tidak butuh tenaga kerja yang fresh graduate untuk dikembangkan (yang baru bisa dipakai beberapa waktu mendatang).

Kalau orientasi bisnis perusahaan (Bukan semata orientasi bagian HRD/SDM) memang butuh tenaga fresh graduate, saya rasa gak SUSAH kok, ngajarinya. Karena strategi perusahaan itu tentunya akan mendorong bagian SDM untuk bikin metode pendidikan yang CANGGIH, yang juga mendorong semua pihak terkait untuk ikut ngajari, dengan metode-metode yang telah ditetapkan oleh bagian HRD/SDM.

Kalau tentang 'ngajari', saya rasa lebih enak ngajari fresh graduate karena semangat belajar mereka masih tinggi. Beda dengan yang dah berpengalaman, kadang agak "Cengkal" nek diajari .......

Tergantung strategi perusahaan apakah milih tenaga yang siap pakai dengan skill tinggi, atau tenaga tidak siap pakai dengan skill rendah, namun potensial dikembangkan.

Lepas dari urusan rekrut fresh graduate ...
Kalau mengaca dari TOYOTA, urusan belajar mengajar ini telah menjadi budaya dalam perusahaan. Seorang pimpinan (meski punya andil meningkatkan keuntungan perusahaan segede gunung) akan dianggap gagal kalau tidak berhasil mengajari dan mengembangkan bawahannya .... Hal yang senantiasa dipikirkan dan dikembangkan di perusahaan ini adalah :
"Mengidentifikasi pengetahuan vital mengenai pekerjaan, menemukan cara yang lebih efektif untuk mentransfer pengetahuan tersebut kepada orang lain dan mencapai tingkat performa yang signifikan sebagai hasilnya"

Dalam melakukan transfer pengetahuan, Toyota mengembangkan TPS-Toyota Production System. Dalam TPS ini, antara lain terdapat metode pelatihan yang disebut "metode pelatihan instruksi kerja". Sistem ini menguraikan pekerjaan spesifik menjadi bagian-bagian kecil; masing-masing elemen pekerjaan diajarkan secara mendetil dimana guru melakukan demonstrasi dan siswa melakukan observasi, praktik serta akhirnya menguasai elemen-elemen tersebut. Bagian-bagian kecil tersebut, pada akhirnya disatuan kembali menjadi sebuah pekerjaan utuh. Proses ini berlangsung on the job dalam sebuah lingkungan pelatihan yang mendukung.

Dalam sebuah wawancara dengan Isao Kati, seorang karyawan lama di Toyota dan salah seorang Master trainer pertama di perusahan tersebut, menyatakan bahwa di Toyota ada ucapan 'mono zukuri wa hito zukuri' yang berarti membuat sesuatu adalah mengenai membuat orang. Jika orang ingin sukses dalam menerapkan TPS, mereka harus berfokus pada pengembangan orang dan menciptakan pemimpin yang ampu membuat perbaikan. Selain itu dikatakan pula bahwa : anda tidak dapat memisahkan pengembangan orang dari pengembangan sistem produksi jika anda ingin sukses dalam jangka panjang.



Tentang ini, lebih lengkapnya ada di Buku TOYOTA TALENT - Mengembangkan SDM anda ala Toyota .....
Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar